just write

just write
Tampilkan postingan dengan label Karya Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya Sastra. Tampilkan semua postingan

Panci dan Timbangan

Rabu, 28 Desember 2016



Panci dan Timbangan



Dua cermin (cerita mini) karya Hilmi Akmal


Panci
Putriku yang baru tiga tahun punya mainan favorit. Bukan boneka, bukan uang-uangan bergambar princess, bukan lego. Bukan itu semua. Yang menjadi favoritnya adalah sebuah panci. Iya panci alumunium berdiameter 22 cm yang biasa dipakai istriku untuk memasak sayur sop kegemaranku.  

Mendedah Kalbu

Rabu, 06 April 2016



Mendedah Kalbu

Puisi Hilmi Akmal



Mendedah kalbu
menyeruak rindu
mengenangmu
laksana diiiris sembilu.
Tulang rusukku
mengapa belum juga bersatu?

Puisiku Menjelma

Selasa, 17 November 2015



Puisiku Menjelma

Puisi Hilmi Akmal


Puisiku menjelma mawar, teratai, dan melati
yang menyebarkan semerbak wangi
Puisiku menjelma tari
yang terus bergerak tanpa henti
Puisiku menjelma nyanyi
yang terus disenandungkan segenap hati
Puisiku menjelma pelangi
yang menjadi lintasan para bidadari

Doaku Menyibak Langit



Doaku Menyibak Langit


Puisi Hilmi Akmal

Doaku menyibak langit
membuatnya gemetar
dan menjatuhkan bintang-bintang.

Yang Termangu di Akhir Bulan



Yang Termangu di Akhir Bulan


Puisi Hilmi Akmal


Dompet yang termangu di akhir bulan
apa yang tengah kau pikirkan?
Apa tentang para pahlawan

Kemarau yang Menenggelamkan



Kemarau yang Menenggelamkan

Puisi Hilmi Akmal

Melangkahi bumi tandus meretak
Empat puluh masa tertatih-tatih
Pendulum enggan bergerak
Tapi  lirih merintih

Jahara, jahara!

Selasa, 22 September 2015



Jahara, jahara!

Cerpenpen  Hilmi Akmal

“Aku tak mau kalau aku dimadu, pulangkan saja kepada orang tuaku,” nada sengau terdengar mengganggu diriku yang sedang asyik membaca koran Minggu. Ternyata suara itu berasal dari seorang transgender yang berdiri di depan rumah. Di tangan kanannya dia memegang kecrek-kecrek ala anak band berwarna merah jambu.

Bualan Tuan

Selasa, 25 Agustus 2015



Bualan Tuan

Puisi Hilmi Akmal

Sila tuan silakan
Sila lanjutkan bualan
Tentang negeri yang nyaman

Sesat Pikir

Kamis, 30 Juli 2015



Sesat Pikir
Puisi Hilmi Akmal
Belasan tahun menipu diri sendiri
Belasan tahun menipu orang lain

Sabda Rakyat

Sabtu, 09 Mei 2015



Sabda Rakyat

Puisi Hilmi Akmal

Kami rakyat pun tak mau kalah
Kami pun dapat mengeluarkan sabda

DUT!

Minggu, 19 April 2015



DUT!

Puisi Hilmi Akmal

Kami tak lagi makan nasi
makan angin kami kini
hingga perut kami menggelembung
dan langkah terhuyung-huyung

Revolusi Gombal

Selasa, 14 April 2015



Revolusi Gombal

Puisi Hilmi Akmal


Rakyat tak butuh revolusi
Rakyat butuh nasi

Pidato Presiden

Minggu, 05 April 2015



Pidato Presiden

Puisi Hilmi Akmal



Sikusa sukreno
Abidala bikuneo
Yazizeratu
Abidala bidolotu

Republik Harga Naik

Sabtu, 28 Maret 2015



Republik Harga Naik

Puisi Hilmi Akmal


Kita terkapar di sini, di republik ini.
Kita dihajar di sana-sini.
Tubuh kita melemah,
Kita terlalu lelah.

Fiksimini Gadis Penggemar Barcelona

Selasa, 24 Maret 2015



Gadis Penggemar Barcelona

Fiksimini Hilmi Akmal

Gadis penggemar Barcelona. Pergi ke acara nonton bersama.

Negeri Tahitahi

Jumat, 20 Maret 2015



Negeri Tahitahi



Puisi karya Hilmi Akmal

Negeri tahitahi tak ada di peta
Tak akan ditemukan dengan aplikasi apa saja
Tapi negeri tahitahi benar-benar ada

Kursi

Kamis, 19 Maret 2015



Kursi

Puisi Hilmi Akmal


Banyak orang berebut kursi
Padahal kursi sudah terisi
Apalagi akhir-akhir ini
Rebutan kursi makin menjadi

Sajak Syalalala

Rabu, 18 Maret 2015



Sajak Syalalala

Puisi Hilmi Akmal

Toean teroes sadja bersenandoeng
Syalalala syalalala
Saat harga beras melenting
Kala rupiah terbanting
Dan rakyat semakin pening

Jarak antara Kau dan Aku

Senin, 16 Maret 2015



Jarak antara Kau dan Aku

Puisi Hilmi Akmal

(pernah dimuat di Antologi Puisi Empat Amanat Hujan, 2010)


Jarak antara Kau dan aku
tak bisa terukur hitungan manusia.
Jarak antara Kau dan aku
Hanyalah sembah dan doa.

Demi Masa



Demi Masa

Puisi Hilmi Akmal

(pernah dimuat di Antologi Puisi Empat Amanat Hujan, 2010)



Masa depan tak bisa ditebak.
Masa lalu hanya bisa ditengok.
Masa kini mesti dilewati.