just write

just write
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Mendedah Kalbu

Rabu, 06 April 2016



Mendedah Kalbu

Puisi Hilmi Akmal



Mendedah kalbu
menyeruak rindu
mengenangmu
laksana diiiris sembilu.
Tulang rusukku
mengapa belum juga bersatu?

Jahara, jahara!

Selasa, 22 September 2015



Jahara, jahara!

Cerpenpen  Hilmi Akmal

“Aku tak mau kalau aku dimadu, pulangkan saja kepada orang tuaku,” nada sengau terdengar mengganggu diriku yang sedang asyik membaca koran Minggu. Ternyata suara itu berasal dari seorang transgender yang berdiri di depan rumah. Di tangan kanannya dia memegang kecrek-kecrek ala anak band berwarna merah jambu.

Bualan Tuan

Selasa, 25 Agustus 2015



Bualan Tuan

Puisi Hilmi Akmal

Sila tuan silakan
Sila lanjutkan bualan
Tentang negeri yang nyaman

Sesat Pikir

Kamis, 30 Juli 2015



Sesat Pikir
Puisi Hilmi Akmal
Belasan tahun menipu diri sendiri
Belasan tahun menipu orang lain

Sabda Rakyat

Sabtu, 09 Mei 2015



Sabda Rakyat

Puisi Hilmi Akmal

Kami rakyat pun tak mau kalah
Kami pun dapat mengeluarkan sabda

Menerjemahkan Karya Sastra

Rabu, 06 Mei 2015



MENERJEMAHKAN KARYA SASTRA



DEFINISI, LANGKAH-LANGKAH DAN PERSYARATAN[1]

Oleh Hilmi Akmal[2]

1. Pendahuluan
            Saat berjalan-jalan ke toko buku, pandangan kita sering tertumbuk pada deretan buku-buku dengan judul berbahasa asing, sebagian besar bahasa Inggris, tetapi isinya berbahasa Indonesia.

DUT!

Minggu, 19 April 2015



DUT!

Puisi Hilmi Akmal

Kami tak lagi makan nasi
makan angin kami kini
hingga perut kami menggelembung
dan langkah terhuyung-huyung

Revolusi Gombal

Selasa, 14 April 2015



Revolusi Gombal

Puisi Hilmi Akmal


Rakyat tak butuh revolusi
Rakyat butuh nasi

Pidato Presiden

Minggu, 05 April 2015



Pidato Presiden

Puisi Hilmi Akmal



Sikusa sukreno
Abidala bikuneo
Yazizeratu
Abidala bidolotu

Republik Harga Naik

Sabtu, 28 Maret 2015



Republik Harga Naik

Puisi Hilmi Akmal


Kita terkapar di sini, di republik ini.
Kita dihajar di sana-sini.
Tubuh kita melemah,
Kita terlalu lelah.

Fiksimini Gadis Penggemar Barcelona

Selasa, 24 Maret 2015



Gadis Penggemar Barcelona

Fiksimini Hilmi Akmal

Gadis penggemar Barcelona. Pergi ke acara nonton bersama.

Negeri Tahitahi

Jumat, 20 Maret 2015



Negeri Tahitahi



Puisi karya Hilmi Akmal

Negeri tahitahi tak ada di peta
Tak akan ditemukan dengan aplikasi apa saja
Tapi negeri tahitahi benar-benar ada

Kursi

Kamis, 19 Maret 2015



Kursi

Puisi Hilmi Akmal


Banyak orang berebut kursi
Padahal kursi sudah terisi
Apalagi akhir-akhir ini
Rebutan kursi makin menjadi

Sajak Syalalala

Rabu, 18 Maret 2015



Sajak Syalalala

Puisi Hilmi Akmal

Toean teroes sadja bersenandoeng
Syalalala syalalala
Saat harga beras melenting
Kala rupiah terbanting
Dan rakyat semakin pening

Sekilas tentang Sastra dan Puisi



Sekilas tentang Sastra dan Puisi[1]

Oleh Hilmi Akmal[2]

Bila politik bengkok, puisilah yang akan meluruskannya.
 –John  F. Kennedy

Sastra, Makhluk Apakah itu?
Jikalau Anda disuguhi pertanyaan pilih mendengarkan musik atau membaca sastra, saya yakin bahwa Anda akan tegas menjawab, “dengerin musik dong!” Bahkan bila Anda disodorkan pertanyaan apa itu sastra, mungkin Anda tidak langsung dapat menjawabnya dengan serta merta. Mungkin pula Anda akan menggaruk-garuk kepala Anda, meski tidak gatal, lalu mengangkat bahu dan menggelengkan kepala Anda sembari cengengesan. Tulisan ini dibuat untuk mengetahui apa itu sebenarnya sastra, terlebih puisi, secara amat ringkas. Tulisan ini mewujud karena, dalam pengamatan saya, masih ada orang yang belum memahami sastra itu apa. Dibanding musik, sastra kalah populer. Cobalah nyalakan televisi. Setiap kanal yang ada pasti punya program acara musik. Tapi pernahkah ada acara sastra? Sekali lagi kepala Anda pasti akan menggeleng.

Jarak antara Kau dan Aku

Senin, 16 Maret 2015



Jarak antara Kau dan Aku

Puisi Hilmi Akmal

(pernah dimuat di Antologi Puisi Empat Amanat Hujan, 2010)


Jarak antara Kau dan aku
tak bisa terukur hitungan manusia.
Jarak antara Kau dan aku
Hanyalah sembah dan doa.

Demi Masa



Demi Masa

Puisi Hilmi Akmal

(pernah dimuat di Antologi Puisi Empat Amanat Hujan, 2010)



Masa depan tak bisa ditebak.
Masa lalu hanya bisa ditengok.
Masa kini mesti dilewati.

Aku Tak Bisa Seperti Rumi



Aku Tak Bisa Seperti Rumi

Puisi Hilmi Akmal

(pernah dimuat di Antologi Puisi Empat Amanat Hujan, 2010)


Aku tak bisa seperti Rumi
bahkan Sa’di
dalam menghampiriMu.
Aku tak bisa sepasrah
Rabiah al-Adabiyah
menerima kehendakMu

Harry untuk Heri



Harry untuk Heri

Oleh Hilmi Akmal*


            Sebuah tangan kecil dengan gemetar mengambil buku Harry Potter ke-6, Harry Potter dan Pangeran Berdarah-Campuran, yang disusun bertumpuk di sebuah toko buku. Pemilik tangan itu mengambil dengan gemetar karena takut tumpukan buku itu jatuh berantakan. Ia juga takut akan dimarahi penjaga toko yang dirasanya mengawasi dirinya sejak ia masuk toko. Ia mengamati sampul buku itu dan membaca judulnya. Setelah puas, ia membalik buku itu untuk melihat harganya. Ia terkejut.

Jaket Almamater



Jaket Almamater

Puisi Hilmi Akmal


Jaket almamater itu masih tergantung di almari
Di jaket itu ada banyak memori
Masih tercium aroma peluh saat berdemonstrasi
Masih terasa harum minyak wangi
Dari kekasih hati
Yang berlindung dari serangan polisi.